Senin, 26 November 2012

Adab Menuntut Ilmu (4)


Kesembilan, Menerima permintaan maaf saudaramu apabila dia meminta maaf, walaupun dia berbohong. Sebab orang yang meminta kerelaanmu secara lahir, walaupun bathinnya membencimu, ia sungguh telah mentaatimu dan menghormatimu, sekiranya dia tidak terang-terangan menentangmu. Tentang hal ini seorang ‘arif berkata "Terimalah udzur orang yang meminta maaf kepadamu tulus maupun dusta permohonanya itu. sungguh, orang yang lahirnya ridha kepada mu telah menaatimu dan yang membantahmu dalam sembunyi pun telah menghormatimu."

Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa saudaranya datang meminta maaf dari kesalahannya, hendaklah dia menerimanya, entah dia bersungguh-sungguh maupun berpura-pura. Siapa yang tidak melakukannya, dia tidak akan sampai ke telagaku di Hari Kiamat”. (HR. Al-Hakim).

Dalam masyarakat masih sering kita jumpai orang-orang yang susah memberikan maaf kepada orang lain dan senang menyimpan dendam. Semakin dia tidak memaafkan orang akan merasa semakin tinggi pula derajatnya. Lirik lagu atau dialog dalam film sepertinya mendukung hal demikian atau bisa jadi apa yang disuarakan dalam lagu atau percakapan dalam film memang gambaran dari sebagian kecil masyarakat kita. Kata Tiada maaf bagimu”, “Pintu maafku sudah tertutup untkmu”, “Tak sudi aku memaafkanmu”,  adalah contoh kata dari sekian kata negatif yang sering digunakan untuk mewakili rasa kecewa atau rasa dendam yang masih tersimpan di hati.

Orang yang meminta maaf atas kesalahannya adalah sikap mulia dan orang yang memberi maaf lebih mulia lagi. Rasul mewajibkan kepada kita untuk memaafkan saudara kita walaupun dalam hati kecil kita tahu dia tidak dengan sungguh-sungguh meminta maaf kepada kita. Rasul mengajurkan kita untuk bersikap positif dan berbaik sangka terhadap permohonan maaf dari saudara kita.

Salah hal yang harus kita sadari bersama bahwa menyimpan dendam seperti menyimpan racun yang lama kelamaan akan merusak diri sendiri. Guru Sufi yang Mulia memberikan nasehat, Jangan diantara kalian tidak saling bertegur sapa lebih dari 24 jam, nanti setan akan masuk ke hati kalian”. Lebih tegas lagi Rasulullah saw bersabda : “Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Barangsiapa yang manjauhi saudaranya lebih dari tiga hari, dia akan mati lalu masuk neraka.” (H.R. Abu Dawud).

Jadi, sebagai seorang muslim dan sebagai murid dari Guru Sufi hendaknya kita meneladani sifat yang dimiliki oleh Rasulullah saw dan sahabat-sahabat Beliau, saling menyayangi dan mengasihi sesama dan tanpa berat hati memaafkan semua kesalahan saudara kita karena kita juga bukan manusia sempurna yang tidak luput dari kekhilafan dan suatu saat ketika kita melakukan kesalahan maka kita juga memerlukan maaf dari saudara kita. Memberi maaf kepada saudara  akan menaikkan derajat kita secara jasmani dan rohani, melepaskan penyakit yang tersimpan di hati dan akan membuat hidup kita lebih cerah.

Tulisan Adab Menuntut Ilmu saya tulis untuk mengingatkan kita semua betapa Islam adalah agama yang luar biasa mulia menjadikan akhlak sebagai pokok ajarannya dan Rasul di utus kedunia dengan tujuan untuk memperbaiki akhlak manusia. Ketinggian ilmu tidak akan bermanfaat apa-apa bila akhlak kita tidak baik. Terlebih lagi dalam dunia Tasawuf/Tarekat yang merupakan inti sari ajaran Islam, persoalan akhlak adalah hal yang sangat pokok. Segala sesuatu di dalam dunia Sufi dimulai dengan adab atau aturan sopan santun yang harus dijalankan oleh murid untuk menuntun dia kepada perilaku yang baik.

Kita mengenal Adab Masuk Suluk, Adab Keluar Suluk, Adab murid kepada Guru dan empat tulisan Inilah Akhlak Seorang Murid yang telah saya tulis adalah membahas tentang Adab Seorang murid kepada saudara seguru dan kepada seluruh kaum muslimin. Inilah Adab Menuntut Ilmu atau Akhlak Seorang Murid  yang saya tuangkan sebanyak 4 postingan,  insya Allah akan saya lanjutkan di lain kesempatan.

Di bulan November yang penuh berkah ini mari kita renungi perjalanan hidup kita, perjalanan berguru dengan Wali Allah. Sekian tahun kita berguru dan membaca tulisan di atas, membaca ahklak yang harus dimiliki oleh seorang murid kemudian tanyakan dalam hati kita masing-masing, apakah kita sudah pantas menyandang predikat menjadi murid seorang Wali Allah atau gelar itu hanya sebuah kebanggaan tanpa pernah kita berada di kedudukan mulia itu?

 
Semoga Bermanfaat... Salam Ukhuwah Fillah


Judul: Adab Menuntut Ilmu (4)
Rating: 100% based on 99998 ratings. 4.5 user reviews.
By Annang ASWAJA
Terimakasih Atas Kunjungan Sahabat... Silahkan tulis kritik dan saran di kotak komentar
Barakallahu Fiikum