Senin, 24 Desember 2012

Tukang Bakso Dan Hajat Mulianya

Di suatu senja saya berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan anak-anak bermain di teras. Hujan rintik-rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor, terdengar suara teng... teng... teng... suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso?

“Mauuuuuuuuu...”, secara serempak dan kompak anak-anak menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya.

Ada satu hal yang menggelitik fikiran selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

“Pak kalau boleh tahu, kenapa uang-uang itu dipisahkan? Barangkali ada tujuan?”

“Iya mas, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.

“Maksudnya...?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya mas, kan agama Islam menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kaleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji... Dan insya Allah selama 17 tahun menabung di kaleng ini, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Masya Allah... Hatiku sangat-sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik kalimat "Tidak Mampu" atau "Belum Ada Rejeki."

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu atau memiliki kemampuan dalam biaya?

Ia menjawab, “Itulah sebabnya mas, justru kami malu kepada Allah kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rizky. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat...!"

Benar juga...

Menurut saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangan Nya, Allah akan memberi kemampuan pada kita...

“Masya Allah... sebuah jawaban dari seorang tukang bakso”.

Sahabat...
Cerita perjalanan spiritual ini sangat sederhana tapi menjadi inspirasi. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amien...

Dalam hadits Qudsi,
“Sesungguhnya Allah berfirman: Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku dan Aku akan senantiasa menyertainya apabila berdoa kepada-Ku”
(HR. Bukhari Muslim)

Judul: Tukang Bakso Dan Hajat Mulianya
Rating: 100% based on 99998 ratings. 4.5 user reviews.
By Annang ASWAJA
Terimakasih Atas Kunjungan Sahabat... Silahkan tulis kritik dan saran di kotak komentar
Barakallahu Fiikum