Rabu, 06 Februari 2013

KHALWAT ADALAH KEWAJIBAN MUSLIM

khalwat adalah kewajiban muslim
Sebelum masa kenabian kira-kira usia yang mulia Sayyidina Muhammad,saw., menjelang empat puluh tahun, beliau senang menyendiri atau melakukan khalwat ke gua hira di Jabal Nur, jaraknya kira-kira dua mil dari mekah, gua itu tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Sampai saat ini, gua tersebut masih dapat dilihat, jemaah haji dari Indonesia banyak yang menyempatkan diri berziarah ketempat ini.

Sejarah mengatakan bahwa di bulan Ramadhan pada tahun ketiga dari masa pengasingan di gua hira, wahyu yang pertama turun. Ini bukti bahwa, beliau berkhalwat dalam kurun waktu yang lama. Juga didalam al-Qur’an dapat dijumpai kisah Nabi Musa,as., yang melakukan khalwat selama tiga puluh hari, lalu Allah SWT menambahnya sepuluh hari lagi, maka genaplah menjadi empat puluh hari lamanya.

"Dan telah kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam" (QS 7 : 142)

Kelompok yang mengatakan bahwa khalwat bukan ajaran dari Nabi Muhammad,saw., adalah salah besar! Justru orang-orang yang mengaku dirinya ulama, namun tidak pernah melakukan khalwat, maka pengakuannya mengada-ada dan sia-sia. Karena jalan pintas untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah khalwat atau suluk. Nyaris tidak ada riwayat yang mengisahkan bahwa ketinggian ruhani seseorang, khususnya para syaikh sufi didapat tanpa melakukan khalwat. Jadi khalwat hukumnya wajib bagi orang-orang yang mendambakkan kesucian lahir ataupun batinnya.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : "Tidak banyak berguna orang yang bertarekat namun tidak melakukan khalwat, karena ibadah yang sejati ada pada khalwat"

Khalwat adalah usaha seorang hamba untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT dengan cara menyepikan batin dari sifat-sifat keduniaan, mensunyikan hati dari hawa nafsu dunia.

Khalwat merupakan suatu keadaan dimana seorang hamba berusaha untuk membutakan matanya dari pandangan-pandangan dunia, mentulikan telinganya dari bisikan-bisikan hawa nafsu dan membisukan lidah dari perkataan-perkataan yang tidak berguna.

Imam Abu Hamid Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin pada bab Adabu Uzlah menjelaskan bahwa khalwat merupakan salah satu upaya seorang hamba untuk membangun ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam pandangan Syaikh KH Sa’adih Al Batawi, bahwa khalwat dilakukan sebagai usaha manusia untuk mengenal dirinya agar dapat mengenal Allah SWT. Salah satu caranya ialah dengan berusaha semaksimal mungkin dapat mengendalikan nafsu lawamah, sawwamah dan ammarah dan nafsu dunia serta nafsu syaithoniyyah yang terdapat dalam jiwanya, sehingga diharapkan akan muncul dalam jiwa manusia itu jiwa yang mutmainnah (jiwa yang tenang).

Allah SWT pada dasarnya telah mengajarkan tentang khalwat dan menjelaskan tentang betapa pentingnya khalwat bagi manusia, hal ini telah termaktub dalam Al Quran: artinya

“Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan-Nya), maka Allah SWT mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya” (Al Syams : 7 – 10)

Dari ayat diatas sungguh sangatlah jelas bahwa Allah SWT punya kepentingan agar manusia menjadi taat dan patuh serta mau membersihkan dan mensucikan jiwanya. Sehingga ketika manusia nanti kembali kepada Allah mereka senantiasa berada dalam kesucian lahir maupun batin.

Sungguh amat beruntunglah orang-orang yang memilih jalan ketaqwaan itu karena mereka tidak menyia-nyiakan hidayah yang Allah berikan kepada mereka. Sebaliknya sungguh amat merugilah bagi mereka yang memilih jalan kefasikan, karena mereka telah menyia-nyiakan rahmat, hidayah dan fitrah ketauhidan yang telah Allah SWT berikan kepada mereka, dengan cara mengotori jiwa, hati dan iman mereka sendiri dalam bentuk-bentuk perbuatan kemaksiatan di hadapan Allah.

Mengasingkan diri atau menyendiri untuk sesaat lamanya, sangat dibutuhkan oleh manusia. Namun harus berhati-hati, banyak riwayat mengatakan bahwa teman daripada orang yang menyendiri adalah syaithoon, oleh karenanya, seseorang harus mempunyai pengetahuan agama yang prima terlebih dahulu. Mengasingkan diri dari khalayak ramai dalam masa yang panjang atau untuk menghabiskan masa tuanya, dalam istilah tasawuf disebut ‘uzlah’, sedangkan memisahkan diri atau menyendiri untuk sementara waktu dari segala sesuatu yang bukan Tuhan adalah ‘Khalwat’.

Sikap seseorang yang layak ketika memutuskan untuk beruzlah atau berkhalwat adalah, merasa bahwa masyarakat akan terhindar dari kejahatannya, bukan merasa bahwa ia akan terhindar dari kejahatan mereka. Yang pertama, adalah hasil daripada memandang rendah dirinya sendiri, sedangkan sikap yang kedua adalah merasa bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Orang yang memandang dirinya tidak berharga adalah rendah hati, sedangkan orang yang menganggap dirinya lebih berharga ketimbang orang lain adalah takabur.

Didalam tradisi tarekat, menyendiri itu harus atas perintah Mursyidnya atau perintah Syaikhnya dan selalu didalam pengawasannya baik lahir atau batinnya. Kira-kira usia muda, yang mulia Syaikhuna pernah meminta izin dari gurunya untuk melakukan khalwat didalam hutan, segala sesuatu perbekalan telah dipersiapkan, namun tidak diperkenankan oleh sang guru. Hal ini menunjukkan bahwa, khalwat adalah pekerjaan khusus, dan diperuntukkan bagi para suci yang memang benar-benar membutuhkan, guna kemajuan spiritualnya, bukan untuk hal lain dan atas kehendak gurunya dan bukan kehendak dirinya sendiri.

Pada saat berkhalwat, seorang Syaikh tidak saja menjadi pembimbing dan pengawas bagi para saliknya, melainkan turut serta mengerjakannya dan patuh atas segala sesuatu yang diwajibkan dalam berkhalwat kepada saliknya.

Imam Al-Qusyairy An-Naisabury (semoga Allah merahmatinya) berkata : "Apabila Tuhan hendak memindahkan hamba-Nya dari kehinaan kekafiran menuju kemuliaan ketaatan, Dia menjadikannya intim dengan kesendirian, kaya dalam kesederhanaan dan mampu melihat kekurangan dirinya. Barangsiapa telah dianugerahi semua ini berarti telah mendapatkan yang terbaik dari dunia dan akhirat"

Hadrat Sayyidi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (semoga Allah mensucikan Ruhnya) berkata : “Menyendiri merupakan sesuatu yang mesti engkau alami. Ketika ajal datang menjemput, semua sahabat dekat akan memutuskan hubungan denganmu, dan semua keluarga akan berpisah darimu. Maka dari itu, berpisahlah dari mereka, dan putuskan hubungan dengan mereka, sebelum mereka meninggalkanmu dalam kesulitan. Kubur akan menjadi jalan kecil menuju Allah SWT., menjadi koridor. Matilah engkau, sebelum engkau mati (mutu qabla antamutu). Matilah terhadap dirimu, dan terhadap mereka, maka engkau akan hidup didalam Dia. Engkau akan menjadi seperti orang mati, yang dimanipulasi oleh tangan takdir, menerima bagiannya dengan sepi ing pamrih.”

Dan beliau berkata : “Memegang teguh tauhid adalah menyingkirkan semua makhluk, menjauhkan diri dari pergolakan tabiat untuk menuju alam malaikat, kemudian meninggalkan alam malaikat dan berhubungan dengan Allah SWT.”

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : "Khalwat adalah menghadirkan rasa terus menerus seolah-olah menjemput kematian"

Rasulullah,saw., bersabda : "Barangsiapa (beramal) dengan ikhlas karena Allah selama 40 hari (pagi), niscaya terpancarlah sumber-sumber hikmah dari hatinya kelidahnya"

Sesungguhnya ibadat tidaklah lestari bila masih berkumpul dengan orang banyak, kemesraan akan didapat dalam kesendirian dan hanya berdua-duaan dengan kekasih tanpa adanya yang lain, oleh karenanya, tidak ada seorang wali atau nabi pun yang tidak mengalami kesendirian baik sebelum ataupun sesudahnya.

Imam Abul Qosim Al Junaid Al Bagdad (semoga Allah meridhoinya) berkata : "Barang siapa mengingingkan agamanya sehat dan raga serta jiwanya tentram, lebih baik ia memisahkan diri dari orang banyak. Sesungguhnya zaman yang penuh ketakutan, dan orang yang bijak adalah yang memilih kesendiriannya"

Pada akhirnya khalwat diharapkan dapat membentuk manusia-manusia yang taat dan tunduk kepada Allah, yaitu mereka mampu bersabar ketika Allah uji, ihklas dalam penyembahannya kepada Allah, bersyukur ketika diberi nikmat dan ridho atas segala ketentuan serta keputusan-keputusan Allah.

Sebagai salah satu tingkatan dalam pembentukan karakter melalui pendakian spiritual, manusia dibimbing untuk mengenal dirinya agar dapat mengenal Allah SWT. Didalam khalwat, jamaah dilatih untuk mengendalikan keinginan yang seringkali ditumpangi dengan nafsu, dilatih untuk melakukan dialog batiniyah kepada Allah SWT hingga mencapai muroqobah dan musyahadah yang output-nya berupa amal sholeh dengan ter-internalisasi-nya sifat-sifat Allah dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Semoga Bermanfaat - Salam Ukhuwah Fillah


Judul: KHALWAT ADALAH KEWAJIBAN MUSLIM
Rating: 100% based on 99998 ratings. 4.5 user reviews.
By Annang ASWAJA
Terimakasih Atas Kunjungan Sahabat... Silahkan tulis kritik dan saran di kotak komentar
Barakallahu Fiikum