Sabtu, 13 April 2013

ULAMA ULAMA ASWAJA NUSANTARA DI MASA LALU

Ulama Ulama Aswaja Nusantara Di Masa Lalu
Para ulama kita dahulu memang hebat-hebat adanya. Mereka telah menjadi tokoh-tokoh dunia dan mengharumkan serta melambungkan nama Nusantara ke pentas dunia Islam internasional. Nama-nama ulama seperti Syekh Yusuf al-Makassari (Makassar) dan Syekh Abdur Rauf as-Sinkili (Aceh), merupakan ulama yang malang melintang menuntut ilmu di Haramain pada abad ke-17. Syekh Abdus Shomad al-Palimbani (Palembang), Syekh Nafis al-Banjari (Kalsel), Syekh Arsyad al-Banjari (Kalsel) merupakan ulama tasawuf thariqat Samaniyah yang berpengaruh pada abad ke-18.

Kita juga mengenal nama-nama seperti Syekh Nurudin ar-Raniri (Aceh), Syekh Abdur Rahman al-Masry al-Batawi (Jakarta), Syekh Khatib Sambas (Kalimantan) dan lain-lainnya.

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ulama kita malah makin hebat-hebat di Mekkah. Karena mereka tidak sekadar menuntut ilmu tapi justru menembus pusat ilmu di Mekkah, yaitu sebagai pengajar dan imam di Masjidil Haram. Tercatat ada 2 nama ulama Indonesia yang menjadi Imam di Masjidil Haram Mekkah, yaitu Syeikh Nawawi al-Bantani dan Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Tersebut jualah Syeikh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo yang telah melanglang buana menuntut ilmu sampai ke Mekkah, Madinah dan Yaman disaat bahkan penduduk Indonesia mungkin belumlah mengenal memakai celana apalagi yang berbahan dan bermodel pantalon. Atau mungkin sebagian dari kita juga akan asing mendengar nama KH. Kholil Bangkalan, KH. Sholeh Darat Semarang, Buya Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli Canduang, Buya H. Sirajuddin Abbas, Syekh Tuanku Shaliah Keramat dan Syeikh Mahfudz Termas. Serta masih puluhan bahkan ratusan nama ulama-ulama Indonesia yang hebat di masanya yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu di sini.

Seluruh ulama pilih tanding Nusantara yang disebutkan di atas adalah ulama berakidah Asy’ariyah-Maturidiyah dan bermadzhab Syafi’iyah, madzhab yang lazim dianut oleh penduduk muslim Nusantara semenjak dulu kala. Tak satupun diantara mereka yang berakidah Mujasimah-Musyabihah, dan berfaham ekstrim nyeleneh anti madzhab imam yang empat alias Wahabiyah. Lebih jauh lagi seluruh mereka adalah para sufi, ulama-ulama thariqat yang bertassawuf.

Sebuah kenyataan historis yang mencengangkan mengingat ulama-ulama thariqat saat ini dikecam secara membabi buta dengan sebutan “kaum sufi yang tolol dan terbelakang” oleh orang-orang ahistoris tak tahu diri yang mengklaim diri mereka sebagai penegak tauhid.

Mereka buta akan fakta bahwa setelah era keemasan Walisongo di tanah Jawa dan ulama-ulama besar di tanah Sumatera serta Melayu pada umumnya para ulama sufi yang tolol dan terbelakang itulah yang menjadi imam-imam panutan tempat bertanya dan menuntut ilmu serta merenangi samudera keilmuan Islam yang nyaris tak terlihat bibir pantainya.

Dari tangan tangan mulia para ulama serta para wali Allah inilah kemudian lahir ulama-ulama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Ahmad Dahlan dan lainnya yang kelak sangat berperan dalam membebaskan bangsa Indonesia pada umumnya dan umat islam nusantara pada khususnya dari belenggu penjajahan Belanda.


Gerakan Pembaharuan Islam Mesir dan Efeknya pada Ulama-ulama Indonesia serta Polemik antara Golongan Tradisional serta Modern yang Dimanipulasi oleh Wahabi di Masa Kini

Mereka para ulama yang kami sebutkan panjang pendek perihalnya di atas, terkemuka di dalam dunia keilmuan Islam tak hanya di Nusantara melainkan juga di dunia selama abad ke 18 dan paruh kedua abad ke 19 serta awal abad ke 20. Hingga akhirnya hembusan gerakan pembaharuan islam bertiup dari Mesir, setelah beberapa waktu sebelumnya berhembus pula dari Najd. Namun anehnya sumber hembusan terdahsyat justru datang dari Perancis.

Ya, tersebutlah 3 tokoh di sini: Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Uniknya majalah al-Manar yang merupakan corong propaganda ide-ide pembaharuannya diterbitkan pertama kali saat mereka berada di Paris-Perancis. Bukankah sebuah keanehan pembaharuan islam namun dihembuskan dari negeri kafir penjajah yang terang-terang dikenal sebagai salah satu markas gerakan Freemasonry dunia?

Sepintas lalu ide pembaharuan yang digagas mereka itu sangatlah luar biasa. Ide-ide tentang modernisasi pendidikan islam, sosial dan politik tentunya tak dapat dipungkiri memang diperlukan oleh kaum muslimin di seluruh belahan dunia yang terjajah oleh bangsa-bangsa Barat saat itu. Tiba-tiba saja al-Manar menjadi konsumsi bacaan populer para pelajar Islam di Mekkah saat itu, tak terkecuali ulama-ulama asal Nusantara seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari yang sedang belajar di sana. Tak sedikit dari para pelajar itu lalu beramai-ramai ke Mesir untuk bertemu dan kursus kilat gerakan tajdid (pembaharuan) kepada Muhammad Abduh dan muridnya Rasyid Ridha.

Namun gerakan modernisasi Islam alias gerakan tajdid ini menyimpan racun yang justru sangat mematikan bagi umat Islam itu sendiri yaitu pelepasan diri dari kaidah bermadzhab kepada madzhab yang empat serta pemberangusan thariqat-thariqat sufi bahkan yang mu’tabarah sekalipun.

Mereka juga menolak madzhab akidah Asy’ariyah-Maturidiyah yang telah berabad-abad dikenal sebagai akidah Ahlussunnah wal Jam’ah. Bayangkan, bukankah itu ibarat seekor kambing yang tak bisa mengaum namun ingin diakui sebagai singa bukan?

Selain itu mereka juga mengecam keras tradisi keislaman seperti maulid, perayaan isra mi’raj dan berziarah ke makam orang-orang sholeh. Dan mereka sangat menekankan bahwa pintu ijtihad masih terbuka lebar dan siapapun bisa dan berhak melakukannya.

Walhasil lahirlah mujtahid-mujtahid gadungan yang kurang ilmu, kering hikmah, miskin khazanah dan bahkan tanpa sanad keilmuan yang jelas. Sehingga fatwa-fatwa yang dihasilkanpun bukan alang kepalang nyeleneh bin ngawurnya.

Semua orang asal bisa berbahasa Arab agak sejurus dua jurus, sepukul dua pukul maka dia bisa dan boleh berijtihad sekehendak hatinya tanpa harus memperhatikan ijma’ ulama terdahulu.

Kalau perlu silakan saja menyalahkan pendapat mereka, shahihkan, dha’ifkan, maudhu’kan, bahkan kafirkan muhadits sekelas Imam Bukhari dan Imam Muslim jika hadits mereka tak sesuai dengan akidah Wahabiyah yang merujuk kepada Syeikh Ibnu Taimiyah. Ini sama saja dengan membebaskan segerombolan anak Paud mengurus keperluan hidupnya sendiri tanpa ada bekal yang cukup dan tanpa ada yang mengawasi.

Agama Islam itu bisa kau fahami dengan seenak nafsu dan akalmu “Do what You want, do what You wilts.” Dari luar gerakan pembaharuan ini sangat mempesona dengan ide ide modernisasi Islam yang bertujuan mengangkat Islam dari keterbelakangan, namun isinya tak lebih dari gerakan Wahabisme jilid dua.

Bahkan yang menarik adalah Muhammad Abduh sendiri mengakui bahwa dia sangat terpengaruh pemikiran Mu’tazilah alias Islam liberal, suatu faham Islam yang ditolak mentah-mentah dengan reaksi yang sangat over acting oleh pengagum-pengagumnya saat ini.

Kemu’tazilahan Abduh bukanlah sebuah rahasia lagi di dunia kajian sejarah faham Wahabi di kalangan para ulama Aswaja dan pemerhati masalah konspirasi saat ini. Bahkan seorang bernama David Livingstone di dalam bukunya “Illuminati and Terrorism” dengan tegas dan berani mengatakan Abduh, Ridha, dan Jamaludin al-Afghani sebagai agen-agen Freemasonry yang ditanam di dalam tubuh islam.

Sumber : Harapan Dan Semangat Hidup Seorang Manusia

Judul: ULAMA ULAMA ASWAJA NUSANTARA DI MASA LALU
Rating: 100% based on 99998 ratings. 4.5 user reviews.
By Annang Wibowo
Terimakasih Atas Kunjungan Sahabat... Silahkan tulis kritik dan saran di kotak komentar
Barakallahu Fiikum