Senin, 18 Juni 2012

Bagai Buih Di Lautan


Diriwayatkan dari Tqausan r.a Rasulullah SAW bersabda: “akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa didunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan”. Salah seorang sahabat bertanya: “apakah karena jumlah kami dimasa itu sedikit”. Rasulullah menjawab : “jumlah kalian banyak tapi seperti buih dilautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahan’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi :“apakah penyakit ‘wahan’ itu ya rasulullah?” Beliau bersabda : “ Cinta kepada dunia dan takut mati!”. (Silsilah hadist shahih no.958).

--------------------------------------------------------------------------------------

Seorang guru sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Dia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya memegang rokok, di tangan kanannya memegang tasbih.  
Guru itu berkata, "Aku ada satu permainan... Caranya begini, ditangan kiriku ada rokok, di tangan kanan ada tasbih. Jika aku angkat rokok ini, maka berserulah "rokok!", jika aku angkat tasbih ini, maka katalah "tasbih!"

Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti.
Guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat. 
Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika aku angkat rokok, maka sebutlah "tasbih!", jika aku angkat tasbih, maka katakanlah "rokok!". 
Dan diulang-ulang seperti tadi, tentu saja murid-murid tadi keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.

Sang
guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Murid-murid, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh musuh kita memaksakan kepada kita dengan berbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kamu akan terbiasa dengan hal itu. Dan kamu mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kamu tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."

"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang aneh, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain." "Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari,
kamu sedikit demi sedikit menerimanya tanpa rasa itu satu kesalahan dan kemaksiatan. Paham?" tanya guru kepada murid-muridnya. 
"Paham Imam..."

"Baik permainan kedua..." begitu
guru melanjutkan.

"Ini ada Qur'an, aku akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang
kamu berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada ditengah tanpa menginjak karpet ?"
Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.
Akhirnya
guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet itu, dan dia ambil Qur'an. Itu memenuhi syarat, tidak menginjak karpet .
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya...
Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak
kamu dengan terang-terangan... Karena tentu kamu akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kamu perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kamu tidak menyadarinya."

"Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibuat pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Kemudian, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dengan pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, Almari diangkat keluar dulu satu persatu, baru rumah dirobohkan..."

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tapi mereka akan perlahan-lahan meletihkanmu. Mulai dari perangaimu, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun
kamu muslim, tapi kamu telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan." "Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kita... "

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan Mam?" tanya seorang murid. 
"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi." 
"Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar".

"Kalau begitu, mari kita cukupkan dulu majelis malam ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang...."

Malam begitu sunyi tatkala para murid pulang dengan pikiran masing-masing di kepalanya... namun hati mereka tetap berdzikir...


Judul: Bagai Buih Di Lautan
Rating: 100% based on 99998 ratings. 4.5 user reviews.
By Annang Wibowo
Terimakasih Atas Kunjungan Sahabat... Silahkan tulis kritik dan saran di kotak komentar
Barakallahu Fiikum