Jumat, 31 Januari 2014

Hakikat Cinta Syech Said Dan Biarawati Cantik

http://annangws.blogspot.com/2014/01/hakikat-cinta-syech-said-dan-biarawati.html
Syech Said seorang salik dengan banyak murid-murid yang taat & mencintainya, mengumpulkan semua murid & sanak familinya untuk memberikan petuah terakhir sebelum berangkat haji, sebuah keinginan yang telah lama ingin diwujudkannya. Setelah persiapan matang dan petuah telah disampaikan berangkatlah sang Syech dengan disertai beberapa murid setia yang tak mau dipisahkan, diiringi doa dan tetesan air mata keluarga yang ditinggalkan.

Hari demi hari dilalui, telah jauh jarak ditempuh, ketika rombongan kecil Syech Said tiba di sebuah kota pada suatu senja, dan beristirahat di sebuah gubuk kosong dekat gereja besar di tepian kota.

Malam bermandikan cahaya bulan, suara nafiri terdengar halus mengiringi suara merdu seorang perempuan yang menyanyikan lagu pujian dibalik jendela gereja yang terbuka. Tergeraklah hati Syech Said oleh keingin tahuan yang mempesonakan. Dilihatnya jendela gereja yang terbuka di bawah guyuran cahaya bulan, tampak wajah seorang biarawati muda yang cantik berseri. Hati Syech Said yang selama ini dipenuhi dzikir tiba-tiba terpenjara oleh cinta yang tak mampu ditahannya.

Hari-hari dilaluinya dengan penuh kegelisahan, cintanya semakin membara, rindunya makin tak terbendung. Dipandanginya jendela gereja sepanjang waktu, hanya berharap sekedar melìhat bayangannya untuk melepas rindu. Sholat tak lagi dia ingat, wirid-wiridnya terlelap tertutup rindu. Tujuan semula untuk berhaji dan murid-muridnya tak diingat lagi.

Sementara murid-murid yang mengikutinya tak berani bertanya. Tak terbersit di hati mereka sedikitpun prasangka buruk, mereka mengira guru mereka berada pada suatu extasi dari tahapan suluk yang dilalui. Dirawatnya guru mereka yang sudah tak peduli pada dirinya dengan penuh tawadlu dan cinta. Hingga mereka mengetahui penyebab kesedihan sang guru.

Bermusyawarahlah para murid untuk mencari solusi, maka disepakati untuk mengatakan pada sang gadis yang ketika itu sedang pergi ke pasar, untuk sudi melihat gurunya dan bersedia menerimanya walau sekedar pura-pura. Hati sang biarawati cantik terusik, ajaran para pendeta tentang kasih menghantarnya untuk menjumpai Syech Said. Tapi begitu dilihatnya wajah Syech Said yang lusuh dimakan usia dan kesedihan, kemudaan dan kesombongannya bergolak dengan angkuh dikatakannya pada Syech Said, “Kalau kau bersedia melayani dan memenuhi perintahku kuizinkan kau dekat padaku.”

Dimulailah kehidupan baru sang Syech sebagai pelayan sang gadis. Dilaksanakannya semua tugas dengan baik tanpa pernah bertanya,tanpa mengeluh, walau sang gadis tak pernah peduli padanya. Sementara para pengikut setia Syech Said setia menunggu sang guru dengan penuh keprihatinan dan kesetiaan, walau mereka tak mampu berbuat apa-apa. Puncaknya, ketika keinginan untuk menghinakan Syech Said semakin kuat di hati gadis cantik yang merasa direndahkan karena hanya dicintai oleh orang tua. Diperintahkanlah sang Syech memelìhara babi dan tinggal bersamanya, barulah nanti si gadis memberikan jawaban kesediaannya.

Syech Said pun tanpa berkata diterimanya tugas tersebut.dengan kegembiraan. Maka tinggallah Syech Said bersama babi-babi peliharaannya dikandang butut dekat gereja. Murid-murid Syech Said yang melihat keadaan gurunya. Menangis, mengingatkan gurunya akan kedudukannya semula yang menjadi panutan masyarakat banyak. Dihormati para penguasa dan pembesar negeri, kini terjerembab di lubang gelap. Sang Syech tersenyum air matanya telah kering diusapnya murid-muridnya dikatakannya,”Lupakan aku,kembalilah kalian kepada keluarga kalian, biarkan aku mengikuti jalanku, sungguh aku tak mampu menahan rindu dan cintaku, kini agamaku adalah cinta yang telah merenggut seluruh jiwaku. Dan kalian terbebas dari aku.” Dengan berat hati perpisahan terjadi kembalilah mereka ke negerinya, meninggalkan gurunya dalam penderitaan cinta.

Telah hampir separuh perjalanan ditempuh ketika rombongan kecil murid-murid Syech Said bertemu dengan rombongan besar yang datang dari negerinya dipimpin seorang murid Syech Said yang tertua. Menangislah pengikut Syech Said yang telah meninggalkan gurunya sendirian, sambil menceritakan keadaan gurunya yang telah murtad dan penuh penderitaan. Murid Syech Said tertua yang telah memperoleh pencerahan rohani berkata kepada saudara saudaranya, “Tahukah kalian tak sepantasnya seorang murid berburuk sangka dan meninggalkan gurunya dalam keadaan apapun. Sesungguhnya kami datang hendak menyusul guru, dan mengikutinya karena melihat cahaya yang luar biasa terang meliputinya dan kami yakini guru telah berada pada puncak spiritual yang tinggi.”

Sementara di kota tempat sang Biarawati tinggal. Ditempat tidurnya yang empuk di bilik gereja yang hangat sang Biarawati tidur terlelap dalam buaian mimpi. Dalam mimpinya sang gadis melihat Syech Said tengah berdiri tegak diliputi cahaya terang dengan wajah bersinar penuh wibawa dan kemegahan yang tunduk tiap hati di hadapannya. Syech Said berkata padanya,“Terima kasih kau telah mengajarkan padaku hakikat cinta.” Terbangunlah sang gadis dengan rasa bersalah yang tinggi. Dicarinya Syech Said di tempatnya, tapi tidak ada. Maka pergilah sang biarawati mencari Syech Said dengan kerinduan yang terpendam, segala kesulitan telah dilalui, telah jauh bumi dijejak tak juga jumpa. Wajah cantik yang mempesona kini kusut tak terawat, badannya kurus dan lemah. Hingga terdengar kabar Syech Said bertemu dengan murid-muridnya ditengah padang tandus Sahara. Datanglah tubuh lemah tersebut dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki kepangkuan Syech Said dan berkata, ”Aku ingin mengikutimu kemanapun engkau pergi,” Syech Said membisikkan ketelinganya sebaris kalimat dengan lembut dan sang gadis mendengarkannya dengan seksama bersama binar kegembiraan dan getar bibirnya yang kebiruan mengucapkan. ”Asyhadu an laailaaha illallah wa asyhadu anna muhammadurrasulullah,” matanya tertutup pelan dan lehernya terkulai.

Akhirnya Syech Said mencapai maqom ruhani yang tinggi mencapai derajat cinta pada Allah dengan sebenarnya, setelah fana dari segala keinginan dan kecintaan pada duniawi. Sedang sang biarawati meninggal sebagai seorang muslim juga dalam derajat ruhani yang tinggi setelah mengalami penderitaan cinta, mengenal hakekat cinta. Dan dibukakan siapa yang menjadi sasaran cintanya, keinginan bertemu Syech Said bukan untuk jadi pendamping hidup. Tapi keinginan untuk beroleh bimbingan menuju yang dicinta dari ahlinya.






..kini agamaku adalah cinta yg telah merenggut seluruh jiwaku…


Sumber : SARKUB
Powered by Menyansoft
Judul: Hakikat Cinta Syech Said Dan Biarawati Cantik
Rating: 100% based on 99998 ratings. 4.5 user reviews.
By Annang Wibowo
Terimakasih Atas Kunjungan Sahabat... Silahkan tulis kritik dan saran di kotak komentar
Barakallahu Fiikum