Kamis, 21 Februari 2013

SEBAB TURUNNYA AYAT AL-QUR'AN

sebab turunnya ayat al-qur'an
Sebelumnya silahkan sahabat simak sepenggal peristiwa berikut ini sebagai gambaran betapa penafsiran dengan akal semata tanpa mengetahui sebab dari turunnya perintah atau petunjuk akan menjadikan salah...

~ Seorang ayah memerintahkan anaknya "Nak tolong ambilkan air"
Mendengar itu si anak yang saat itu tidak berada pada ruangan yang sama dengan ayahnya segera bergegas dan datang kepada ayahnya dengan seember air.
Betapa kagetnya si ayah dibawakan air seember... karena ketika memerintahkan anaknya, si ayah sedang makan dan membutuhkan air untuk diminum.

~ Dalam peristiwa yang lain si Ayah memerintahkan anaknya "Nak tolong ambilkan air". Kemudian si anak membawakan segelas air minum, padahal ayahnya memerintahkan dari toilet karena air dalam bak kosong.

Peristiwa tersebut menggambarkan bahwa menafsirkan suatu perintah jika tidak mengetahui sebab datangnya perintah itu maka akan menjadi salah...

Begitulah pentingnya merujuk pada para Imam, yang merujuk kepada para Tabi'in, yang merujuk kepada para Sahabat, yang pada akhirnya merujuk kepada Rasulullah SAW. Sebab yang paham Al-Qur'an hanya Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Seperti kita ketahui saat ini banyak bermunculan kelompok-kelompok yang punya pemikiran menyimpang, punya sejarah klasik sebagai kelompok pembuat huru-hara, penghasut pemerintah, dan kini hadir lagi dengan gaya barunya, lebih trendi dan lebih aktraktif. Kaum terpelajar, mahasiswa, dosen, juga kalangan muda yang sedang tumbuh ranum pola pikirnya, menjadi korban arus pemikiran ini. Siapa lagi, kalau bukan kaum Rasionalis, para pendewa akal.

Mereka gemar main tuding dengan sembarangan dan dengan istilah-istilah populernya "Bid'ah, Sesat dan ujung-ujungnya memvonis sebagai penghuni Neraka". Kemudian dengan entengnya berkoar-koar kesana kemari "Kembali pada Al-Qur'an dan Al-Hadits"

Dengan cara apa?
Dengan mengikuti penafsiran akal mereka?

Dari awal Islam, Nabi SAW telah mengingatkan :

“Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan akalnya, bersiap-siaplah mendekam dalam api Neraka.” [Riwayat Tirmidzi]

Dalam riwayat lain, ” Barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan akalnya, lalu penafsirannya itu benar, ia tetap keliru.”

Dalil-dalil senada banyak. Semua merupakan salah satu kaidah penafsiran Al-Qur’an yang tidak boleh ditafsirkan dengan akal semata. Selain itu, dari hadist tersebut dipahami, keharusan memelihara penggunaan akal, agar tidak digunakan pada yang bukan merupakan haknya.

Umar bin Khattab berkata: “Hati-hatilah kalian terhadap para pendewa akal (Rasionalis). Mereka tidak mampu menghapal hadist, sehingga mereka berbicara dengan akal mereka saja.”

Sebagaimana kita ketahui bahwa al-Qur’an adalah sejenis kumpulan tulisan dalam satu mushaf namun ia tidak merupakan buku dalam pengertian pada umumnya,  karena ia tidak pernah  diformulasikan, tetapi diwahyukan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan situasi yang menuntutnya. Al-Qur’an sendiri sangat menyadari kenyataan ini sebagai sesuatu yang akan menimbulkan keusilan di kalangan pembantahnya. Seperti yang diyakini sampai sekarang, pewahyuan Al-Qur’an secara total dan secara sekaligus itu tidak mungkin karena Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi kaum muslimin secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada.

Al-Qur’an Diturunkan secara berangsur-angsur selama lebih dari dua puluh tahun. Teks juga menegaskan bahwa sebagian besar ayat dalam Qur’an turun terkait dengan sebab-sebab tertentu, sangat sedikit ayat yang diturunkan tanpa ada sebab eksternal. Ulama al-Qur’an memandang bahwa bingkai realitas melalui mana ayat atau beberapa ayat dapat dipahami, ditentukan oleh sebab atau munasabah tertentu. Atau dengan kata lain, ulama menyadari bahwa kemampuan mufassir untuk memahami makna teks harus didahului dengan pengetahuan tentang realitas-realitas yang memproduksi teks-teks tersebut.

Pengertian ASbab An-Nuzul

Kata asbab an-nuzul menurut bahasa adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu dapat disebut asbab an-nuzul, dalam pemakaiannya ungkapan asbab an-nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an, seperti halnya asbab al-wurud secara khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya Hadits.

Menurut Ibnu Shubhi dalam bukunya “Qur’an dan Hadits” dijelaskan bahwa pengertian asbab an-nuzul secara termenologi adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Qur’an, sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi,

Sementara menurut Ash-Shabuni Asbab an-nuzul diartikan sebagai peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.

Dari pengertian di atas dapat kita pahami bahwa asbab an-nuzul adalah peristiwa yang karenanya Qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.

Hubungan Sebab An-Nuzul Dengan Ayat-ayat Al-Qur’an

Agar kita lebih mudah memahami hubungan antara sabab an-Nuzul dengan ayat-ayat al-Qur’an, maka sebagai contoh mengenai urutan-urutan fase penetapan hukum keharaman khamr. Dimana terdapat tiga ayat dalam Al-Qur’an yang menceritakan “kehalusan” hukum haramnya, yaitu: Surat Al Baqarah ayat 219, kemudian disusul dengan ayat lain yaitu dalam surat An Nisa’ ayat 43, dan yang terakhir adalah Surat Al Maaidah ayat 90-91. Di sinilah peranan penting Asbab an-nuzul, dimana untuk menentukan ayat yang mansukh harus diketahui dengan jelas urutan turunnya ayat-ayat tersebut.

Dengan demikian, penetapan hukum keharaman tersebut tidak dapat dipaksakan secara gegabah dengan pijakan umum al-lafadz saja, karena apabila itu tetap diterapkan, maka tidak menutup kemungkinan ada pihak yang dengan sengaja memegang ayat pertama atau kedua untuk suatu kepentingan, dan ini akan menhancurkan tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya hukum pengharaman tersebut (hikmah at-tasyri’).

Contoh di atas sebenarnya hanya untuk memberikan gambaran bahwa Selain pertimbangan umum al-lafadz lewat proses analogi, Asbab an-nuzul juga menunjukkan pada pertimbangan khusus as-sabab, karena tidak semua teks dapat dihadapi dengan pertimbangan “keumuman teks dan mengabaikan kekhususan sebab”. Dan bila ini dipaksakan, maka akan berakibat fatal pada pengakuan umum tentang hikmah at-tasyri’.

Di sisi inilah, korelasi yang sebenarnya antara fenomena Naskh dan konsep Asbab an-nuzul, sebagai perwujudan dari dialektika antara teks dan realita. Dimana ayat-ayat yang telah di-mansukh hukumnya tidak dapat lagi dipakai keumuman ungkapannya untuk kemudian digeneralisasikan dengan realita yang serupa dengannya.

Pentingnya Memahami Sebab An-Nuzul

Mengetahui asbab an-nuzul menurut Manna Khalil al-Qattan adalah cara terbaik untuk memahami makna al qur’an dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab-sebab turunnya.

Hal ini sejalan dengan pendapatnya Fazlur Rahman, bahwa Al-Qur’an sebagai puncak dari sebuah gunung es. Sembilan per sepuluh dari bagiannya terendam di bawah perairan sejarah dan hanya sepersepuluhnya yang dapat dilihat. Ia lebih lanjut menegaskan bahwa sebagian besar ayat Al-Qur’an sebenarnya mensyaratkan perlunya pemahaman terhadap situasi-situasi historis khusus, yang memperoleh solusi, komentar dan tanggapan dari Al-Qur’an.

Dari pendapat para pakar di atas kita dapat mengetahui bahwa Memahami Asbabu an-Nuzul sangatlah penting karena dapat menyingkap hubungan dialektika antara teks dengan realitas, dimana dalam konsep Asbabu an-Nuzul, turunnya teks dinilai sebagai “respon” atas realitas, baik dengan cara menguatkan ataupun menolak, dan menegaskan hubungan dialogis antara teks dengan realitas. Walaupun pada satu sisi, ada kalangan -– sebagaimana disinyalir Az-Zarqani dan As-Suyuthi — yang berpendapat bahwa mengetahui asbab an-nuzul merupakan hal yang sia-sia dalam memahami Al-Qur’an. Mereka beranggapan bahwa mencoba memahami Al-Qur’an dengan meletakkannya dalam konteks historis itu sama dengan membatasi pesan-pesannya pada ruang dan waktu tertentu. Namun, keberatan seperti ini tidaklah berdasar karena tidak mungkin menguniversalkan pesan AL-Qur’an di luar masa dan tempat pewahyuan, kecuali melalui pemahaman yang semestinya terhadap makna Al-Qur’an dalam konteks kesejarahannya.

Al-Qur’an Diturunkan Secara Bertahap

Terkait dengan peristiwa turunnya al-Qur’an yang tidak sekaligus (berangsur-angsur) dan mempertimbangkan realitas dan sebab itu maka menimbulkan keusilan dikalangan pembantahnya yaitu kaum Musyriq karena mereka mempunyai konsep mengenai kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan secara lengkap dan terbukukan sebagaimana papan (lauh) milik Musa as.

Keusilan dimaksud tercermin dalam Pertanyaannnya yaitu; mengapa harus mempertimbangkan realitas dan sebab dalam menurunkan secara bertahap, padahal Allah SWT mengetahui seluruh realitas, global dan detilnya, sebelum realitas itu terjadi? Bila kemudian dinilai bahwa turun wahyu terikat dengan sebab, maka sama dengan menyatakan perbuatan Allah SWT terikat dengan ruang dan waktu. Kesimpulan ini mengandung unsur penghinaan terhadap “kekuasaan Tuhan” yang mutlak. padahal bukankah dalam jangkauan kekuasaan Allah SWT yang mutlak untuk menurunkan al-Qur’an sekaligus, bukankah Ia mampu untuk menjadikan Nabi Saw menghafal sekaligus?

Dalam Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa yang menjadi alasan utama adalah pertimbangan kondisi Nabi Saw sebagai “penerima pertama” wahyu sebagai proses komunikasi yang berat (inna sanulqi ‘alaika qaulan tsaqila). Sehingga membutuhkan proses yang yang bertahap agar mudah baginya untuk menghafal. Ini berbeda dengan Nabi-Nabi lainnya, sebab mereka dapat menulis dan membaca sehingga dimungkinkan bagi mereka untuk menghafalkan semuanya apabila diturunkan sekaligus.

Alasan lain juga kenapa al Qur’an tidak diturunkan sekaligus yaitu untuk menguatkan hati Rasulullah SAW. Sebab, bila wahyu turun dalam setiap peristiwa, ini akan lebih memantapkan hati dan lebih memberikan perhatian terhadap Rasulullah SAW.

Untuk lebih detailnya silahkan baca juga Sejarah Al-Qur'an

Judul: SEBAB TURUNNYA AYAT AL-QUR'AN
Rating: 100% based on 99998 ratings. 4.5 user reviews.
By Annang ASWAJA
Terimakasih Atas Kunjungan Sahabat... Silahkan tulis kritik dan saran di kotak komentar
Barakallahu Fiikum