Jumat, 07 Februari 2014

Allah Memproses Hidup Manusia

http://annangws.blogspot.com/2014/02/allah-memproses-hidup-manusia.html
Allah MEMPROSES hidup seseorang,
Bagaikan…, seorang penambang emas di sungai, MEMPROSES endapan “lumpur hitam”, yang diambil dari dasar sungai, “dipilih” dan “dilebur” jadi LOGAM MULIA

Banyak yang diambil…
Tapi sedikit yang terpilih…

Yang TERPILIH,
Dicuci dengan KESABARAN dan KETABAHAN… hingga nampak mulai berkilau, keadaannya jadi jauh LEBIH BAIK dari sebelumnya…

Tapi…

Yang TIDAK TERPILIH,
Pasti akan TERJATUH kembali ke dalam sungai, LENYAP tak berbekas dalam “kebinasaan”…

Selanjutnya…
YANG TERPILIH,
Harus masuk dalam PROSES PEMURNIAN…,
Kuali panas siap melelehkannya…

Siapa yang MENYERAH,
Dan tak dapat bertahan…,
PASTI akan hancur oleh panasnya kuali pemurnian…!

Tapi…

Siapa yang BERTAHAN…,
Dialah yang teruji…!
JADILAH EMAS MURNI YANG TERBAIK…!!!

Sahabatku…
Seperti apa hidupmu saat ini??
KETAHUILAH…
Penderitaan yang kau alami kini…,
Adalah proses yang Tuhan ijinkan…
untuk memisahkanmu dari segala yang BURUK,
Yang masih ada dalam hidupmu…
demi MEMURNIKAN hidupmu…,
untuk dibentuk menjadi “emas murni” yang TERBAIK…!

JANGAN MENYERAH…!
Air matamu tidak akan jatuh percuma…!
Penderitaanmu saat ini…,
Tidak dapat dibandingkan dengan KEMULIAAN ALLAH…
Yang akan dinyatakan kepadamu…!

Sesuatu yang BAIK,
Datang untuk siapa yang YAKIN
Sesuatu yang LEBIH BAIK…,
Datang untuk siapa yang BERSABAR
Dan,
Sesuatu yang TERBAIK…
PASTI datang untuk siapa yang TIDAK PERNAH MENYERAH !!!???

Semoga Manfaat...


Rabu, 05 Februari 2014

DAYA KATA-KATA DAN KEJERNIHAN JIWA

http://annangws.blogspot.com/2014/02/daya-kata-kata-dan-kejernihan-jiwa.html
Kata–kata adalah bahasa hati, yang seharusnya lahir dari rahim nurani. Bukan hanya terucap lewat lisan, tidak hanya menjadi pemanis mulut, tetapi setiap huruf yang muncul dan terangkai menjadi sebuah kata adalah bentuk dari bahasa nurani yang lahir dari kejernihan kalbu. Sehingga bahasa hati yang tertuang lewat kata–kata itu akan menjadi penyimpul dari pemilik hati itu. Kalau pemilik hati ini memiliki kejernihan jiwa dan kebeningan kalbu yang berangkat dari iman yang kokoh, kata–kata pun hadir bagai embun, ketika dilihat jernih, ketika dirasakan, ia akan terasa menyejukkan siapapun yang melihatnya. Sebaliknya ketika hati itu terkotori oleh kekotoran jiwa, maka kata yang tertuang pun akan mencerminkan sang pemilik hati yang jiwanya masih kotor.

Kata–kata yang muncul dari pemilik hati yang memiliki kejernihan jiwa dan kepekaan nurani, ia akan seperti embun, yang selalu hadir dipagi hari, masih memiliki banyak energi, yang memiliki daya yang mampu menarik dedaunan pagi untuk tersinggahi oleh embun pagi, yang memiliki daya untuk menarik apapun dan siapapun yang melihatnya dan merasakan kesegarannya. Kata–kata yang berasal dari buah kebeningan hati yang muncul dari kekuatan iman, ia akan mampu menarik apapun dan siapapun untuk merasakan kekuatan dari kata–kata itu. Kata–kata yang muncul dari kejernihan jiwa, ia juga seperti matahari pagi, terasa hangat dan menghangatkan dan bermanfaat bagi makhluk hidup. Ada hubungan yang erat antara kekuatan kata–kata dengan kebeningan hati serta kekuatan iman. Ketiganya akan menjadi kekuatan yang maha dahsyat.

Dan sampai kapanpun, kekuatan kata itu akan senantiasa ada selama kejernihan jiwa, kekokohan jiwa, kepekaan nurani, itu selalu menyertai setiap huruf yang tertuang menjadi kata–kata.
Kata–katanya menyejukkan dan tidak menyesatkan.
Kata–katanya akan menguatkan jiwa, dan tidak melemahkan.
Kata–katanya akan menimbulkan semangat baru, bukan penghancur semangat.
Kata–katanya memiliki makna keimanan, bukan dengki, dendam, dan hal–hal yang mengotori jiwa.
Dan inilah kekuatan kata–kata itu.
Jika kata–kata itu akan terus bersama kejernihan hati yang timbul akibat kekuatan iman, ia akan menjadi kekuatan dahsyat yang mampu mengalahkan apapun, dan dia tetap hidup sampai kapanpun.

Mari kita raih ridha Allah dengan kata-kata dari jiwa yang jernih...

Semoga Manfaat


Jumat, 31 Januari 2014

Hakikat Cinta Syech Said Dan Biarawati Cantik

http://annangws.blogspot.com/2014/01/hakikat-cinta-syech-said-dan-biarawati.html
Syech Said seorang salik dengan banyak murid-murid yang taat & mencintainya, mengumpulkan semua murid & sanak familinya untuk memberikan petuah terakhir sebelum berangkat haji, sebuah keinginan yang telah lama ingin diwujudkannya. Setelah persiapan matang dan petuah telah disampaikan berangkatlah sang Syech dengan disertai beberapa murid setia yang tak mau dipisahkan, diiringi doa dan tetesan air mata keluarga yang ditinggalkan.

Hari demi hari dilalui, telah jauh jarak ditempuh, ketika rombongan kecil Syech Said tiba di sebuah kota pada suatu senja, dan beristirahat di sebuah gubuk kosong dekat gereja besar di tepian kota.

Malam bermandikan cahaya bulan, suara nafiri terdengar halus mengiringi suara merdu seorang perempuan yang menyanyikan lagu pujian dibalik jendela gereja yang terbuka. Tergeraklah hati Syech Said oleh keingin tahuan yang mempesonakan. Dilihatnya jendela gereja yang terbuka di bawah guyuran cahaya bulan, tampak wajah seorang biarawati muda yang cantik berseri. Hati Syech Said yang selama ini dipenuhi dzikir tiba-tiba terpenjara oleh cinta yang tak mampu ditahannya.

Hari-hari dilaluinya dengan penuh kegelisahan, cintanya semakin membara, rindunya makin tak terbendung. Dipandanginya jendela gereja sepanjang waktu, hanya berharap sekedar melìhat bayangannya untuk melepas rindu. Sholat tak lagi dia ingat, wirid-wiridnya terlelap tertutup rindu. Tujuan semula untuk berhaji dan murid-muridnya tak diingat lagi.

Sementara murid-murid yang mengikutinya tak berani bertanya. Tak terbersit di hati mereka sedikitpun prasangka buruk, mereka mengira guru mereka berada pada suatu extasi dari tahapan suluk yang dilalui. Dirawatnya guru mereka yang sudah tak peduli pada dirinya dengan penuh tawadlu dan cinta. Hingga mereka mengetahui penyebab kesedihan sang guru.

Bermusyawarahlah para murid untuk mencari solusi, maka disepakati untuk mengatakan pada sang gadis yang ketika itu sedang pergi ke pasar, untuk sudi melihat gurunya dan bersedia menerimanya walau sekedar pura-pura. Hati sang biarawati cantik terusik, ajaran para pendeta tentang kasih menghantarnya untuk menjumpai Syech Said. Tapi begitu dilihatnya wajah Syech Said yang lusuh dimakan usia dan kesedihan, kemudaan dan kesombongannya bergolak dengan angkuh dikatakannya pada Syech Said, “Kalau kau bersedia melayani dan memenuhi perintahku kuizinkan kau dekat padaku.”

Dimulailah kehidupan baru sang Syech sebagai pelayan sang gadis. Dilaksanakannya semua tugas dengan baik tanpa pernah bertanya,tanpa mengeluh, walau sang gadis tak pernah peduli padanya. Sementara para pengikut setia Syech Said setia menunggu sang guru dengan penuh keprihatinan dan kesetiaan, walau mereka tak mampu berbuat apa-apa. Puncaknya, ketika keinginan untuk menghinakan Syech Said semakin kuat di hati gadis cantik yang merasa direndahkan karena hanya dicintai oleh orang tua. Diperintahkanlah sang Syech memelìhara babi dan tinggal bersamanya, barulah nanti si gadis memberikan jawaban kesediaannya.

Syech Said pun tanpa berkata diterimanya tugas tersebut.dengan kegembiraan. Maka tinggallah Syech Said bersama babi-babi peliharaannya dikandang butut dekat gereja. Murid-murid Syech Said yang melihat keadaan gurunya. Menangis, mengingatkan gurunya akan kedudukannya semula yang menjadi panutan masyarakat banyak. Dihormati para penguasa dan pembesar negeri, kini terjerembab di lubang gelap. Sang Syech tersenyum air matanya telah kering diusapnya murid-muridnya dikatakannya,”Lupakan aku,kembalilah kalian kepada keluarga kalian, biarkan aku mengikuti jalanku, sungguh aku tak mampu menahan rindu dan cintaku, kini agamaku adalah cinta yang telah merenggut seluruh jiwaku. Dan kalian terbebas dari aku.” Dengan berat hati perpisahan terjadi kembalilah mereka ke negerinya, meninggalkan gurunya dalam penderitaan cinta.

Telah hampir separuh perjalanan ditempuh ketika rombongan kecil murid-murid Syech Said bertemu dengan rombongan besar yang datang dari negerinya dipimpin seorang murid Syech Said yang tertua. Menangislah pengikut Syech Said yang telah meninggalkan gurunya sendirian, sambil menceritakan keadaan gurunya yang telah murtad dan penuh penderitaan. Murid Syech Said tertua yang telah memperoleh pencerahan rohani berkata kepada saudara saudaranya, “Tahukah kalian tak sepantasnya seorang murid berburuk sangka dan meninggalkan gurunya dalam keadaan apapun. Sesungguhnya kami datang hendak menyusul guru, dan mengikutinya karena melihat cahaya yang luar biasa terang meliputinya dan kami yakini guru telah berada pada puncak spiritual yang tinggi.”

Sementara di kota tempat sang Biarawati tinggal. Ditempat tidurnya yang empuk di bilik gereja yang hangat sang Biarawati tidur terlelap dalam buaian mimpi. Dalam mimpinya sang gadis melihat Syech Said tengah berdiri tegak diliputi cahaya terang dengan wajah bersinar penuh wibawa dan kemegahan yang tunduk tiap hati di hadapannya. Syech Said berkata padanya,“Terima kasih kau telah mengajarkan padaku hakikat cinta.” Terbangunlah sang gadis dengan rasa bersalah yang tinggi. Dicarinya Syech Said di tempatnya, tapi tidak ada. Maka pergilah sang biarawati mencari Syech Said dengan kerinduan yang terpendam, segala kesulitan telah dilalui, telah jauh bumi dijejak tak juga jumpa. Wajah cantik yang mempesona kini kusut tak terawat, badannya kurus dan lemah. Hingga terdengar kabar Syech Said bertemu dengan murid-muridnya ditengah padang tandus Sahara. Datanglah tubuh lemah tersebut dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki kepangkuan Syech Said dan berkata, ”Aku ingin mengikutimu kemanapun engkau pergi,” Syech Said membisikkan ketelinganya sebaris kalimat dengan lembut dan sang gadis mendengarkannya dengan seksama bersama binar kegembiraan dan getar bibirnya yang kebiruan mengucapkan. ”Asyhadu an laailaaha illallah wa asyhadu anna muhammadurrasulullah,” matanya tertutup pelan dan lehernya terkulai.

Akhirnya Syech Said mencapai maqom ruhani yang tinggi mencapai derajat cinta pada Allah dengan sebenarnya, setelah fana dari segala keinginan dan kecintaan pada duniawi. Sedang sang biarawati meninggal sebagai seorang muslim juga dalam derajat ruhani yang tinggi setelah mengalami penderitaan cinta, mengenal hakekat cinta. Dan dibukakan siapa yang menjadi sasaran cintanya, keinginan bertemu Syech Said bukan untuk jadi pendamping hidup. Tapi keinginan untuk beroleh bimbingan menuju yang dicinta dari ahlinya.






..kini agamaku adalah cinta yg telah merenggut seluruh jiwaku…


Sumber : SARKUB
Powered by Menyansoft

BEDA PANDANGAN, BEDA PULA KONSEKUENSINYA

http://annangws.blogspot.com/2014/01/beda-pandangan-beda-pula-konsekuensinya.html
Suatu ketika, salah seorang sultan berziarah ke makam syaikh Abu Yazid al-Basthomi qaddasallahu sirroh. Sesampainya di makam syaikh Abu Yazid, sultan tersebut berkata;

"Adakah disini orang yang pernah bertemu dengan syaikh Abu Yazid ketika beliau masih hidup?”

Mendengar pertanyaan sultan demikian, salah seorang yang berada di tempat tersebut memberikan isyarat kepada seorang laki-laki tua yang pada saat itu juga sedang berada di makam syaikh Abu Yazid.

Mendapat isyarat demikian, sultan tersebut lalu menanyai laki-laki tua tersebut;

“Apakah engkau pernah mendengar salah satu dari ucapan Abu Yazid?”

Mendengar pertanyaan dari sultan yang ditujukan ke arahnya, laki-laki tua tersebut menjawab;

“Iya, saya pernah mendengar ucapannya. Beliau pernah berkata; Barangsiapa yang menziarahi aku, maka ia tidak akan dibakar oleh api neraka…”


Mendapat jawaban demikian, sultan merasa bingung dengan ucapan tersebut, lalu berkata;

“Bagaimana bisa Abu Yazid berkata demikian, Abu Jahal saja yang telah melihat Nabi shalallahu’alaihi wasallam, namun ia dibakar api neraka???!”


Mendengar pertanyaan demikian, laki-laki tua tersebut menjawab;

“Abu Jahal belum pernah melihat Nabi shalallahu’alahi wasallam, sesungguhnya yang pernah dilihat oleh Abu Jahal itu adalah anak yatim yang diasuh oleh Abu Thalib. Seandainya saja Abu Jahal mau melihat Nabi shalallahu’alaihi wasallam, tentu ia tidak akan dibakar oleh api neraka.” 

Mendapat jawaban demikian, sultan tersebut faham dengan apa yang maksudkan oleh laki-laki tua tersebut dan ia merasa takjub dengan jawabannya itu.

Maksudnya adalah, Abu Jahal memang belum pernah melihat sosok Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam sebagai sosok yang harus dihormati dan dimulyakan, sebagai sosok teladan yang pantas untuk di anut, apalagi sebagai sosok yang diyakini sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Andai saja Abu Jahal mau memandang Nabi shalallahu’alaihi wasallam dengan padangan semacam ini, tentu ia tidak akan dibakar oleh api neraka.

Apa yang dilihat Abu Jahal pada diri Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam ketika itu hanyalah beliau sebagai anak yatim yang di asuh oleh Abu Thalib.



Sumber : Ditulis oleh Kiyai As-ad, M.Kub 
dari kitab : Ar-Rasul shalallahu'alaihi wa sallam, 
karya Syaikh Duktur Abdul Halim Mahmud


Senin, 27 Januari 2014

Tiga Golongan Manusia Dalam Menyikapi Musibah

http://annangws.blogspot.com/2014/01/tiga-golongan-manusia-dalam-menyikapi.html

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya". Al-Isra' 16.

"Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan". Asy-Syuara 208

"Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman yang Kami telah membinasakannya sebelum mereka; maka apakah mereka akan beriman?." Al-Anbiya 6.

"Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kelaliman." Al-Qashash 59.

"Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertobat)." Al-Ahqaaf 27.

"Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) , melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lohmahfuz)" . Al-Isyra' 58.

Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu kaum baik berupa kesenangan maupun kesusahan, akan tetapi umumnya musibah selalu identik dengan kesusahan, padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya juga musibah juga.

Dan dengan musibah, Allah SWT hendak menguji, siapa yang paling baik amalnya.

''Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.'' Al-Kahfi 7

Dan didalam Al-Qur'an juga dijelaskan bahwa ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah.

"Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman". Al-AnĂ­am 125

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Al-Baqarah 156.

Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalh sebagai hukuman dan azab kepadanya, sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.

Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa, Ia tidak pernah menyerahkan apa - apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT.

Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya, Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.

Dan Musibah yang ditimpakan kepada umat manusia ada dua macam. pertama, musibah dunia dan yang kedua, musibh akhirat.

Musibah dunia salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Baqarah 155. ''Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.''

Adapun musibah akhirat adalah orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.''

Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.

Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa dan siksa.

Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman, ''Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya, apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.' '

Kesimpulan musibah demi musibah yang kita hadapi selama ini, masih lebih baik apabila kita mau bertobat, dan musibah demi musibah yang kita lihat , kita rasakan dan kita alami, bila kita hadapi dengan sabar, ikhlas dan tetap istikomah serta taubat sebenar benarnya taubat dan juga kembali kepada baik hukum Allah yang telah Allah SWT gariskan dan telah Allah tetapkan dalam Al-Qur'an serta bimbingan yang telah Nabi Muhammad SAW contohkan untuk kita semua sesuai yang tertera dalam hadits yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an, pastilah kita akan mendapat pahala serta petunjuk dan Insya Allah kita semua selamat baik dunia sampai akhirat.

Semoga Bermanfaat...
 

Sabtu, 25 Januari 2014

RAHASIA KEMULIAAN SAYYIDAH FATIMAH AZZAHRA DICINTAI RASULULLAH SAW

http://annangws.blogspot.com/2014/01/rahasia-kemuliaan-sayyidah-fatimah_25.html
Oleh: Buya Yahya (Pengasuh Majelis Al-Bahjah Cirebon)

Download MP3
(Cara Download: Klik kanan pada link Download MP3, kemudian pilih Save Target As… atau Save Link As…)

Kenapa Sayyidah Fatimah Azzahra Dicintai Rasulullah?

Suatu ketika Sayyidah Fatimah Azzahra putri tercinta Rasulullah SAW, berada di depan rumah beliau, tiba-tiba ada janazah yang hendak di bawa kekuburan lewat di depan sayyidah Fatimah Azzahra. Saat itu Sayyidah Fatimah bersama Sayyidah Asma Binti Khumaisy yang biasa menemani dan menghibur Sayyidah Fatimah setelah kepergian Rasulullah SAW.

Tiba-tiba saat itu Sayyidah Fatimah menangis tersedu-sedu hingga membuat Sayyidah Asma panik lalu bertanya,

“Wahai putri Rasulullah, kenapa engkau menangis melihat janazah itu? Ada apa dengan janazah itu?”.

Sayyidah Fatimah menjawab,

“Setiap orang yang mati akan dibungkus dengan kain kafan yang rapat lalu akan dibawa ke lokasi pemakaman dengan dipanggul oleh orang-orang yang membawanya?”

(Dahulu sebelum adanya keranda mayat jika ada orang meninggal maka di saat dibawa ke kubur jenazah dipanggul di atas pundak orang-orang yang membawanya).

Sayyyidah Asma menjawab,

“Tentu wahai putri Rasulullah”.

Kemudian Sayyidah Fatimah melanjutkan,

”Dan aku pun kelak akan dibawa ke kubur seperti itu?”.

Sayyidah Asma menjawab,

“Benar wahai putri Rasulullah”.

alu Sayyidah Fatimah melanjutkan,

”Itulah yang menjadikan aku menangis, sungguh aku sangat malu jika nanti aku meninggal, kemudian dibungkus kain kafan dengan rapat lalu diangkat di atas punggung orang-orang yang membawaku ke kubur, sementara orang yang mengiring jenazahku akan melihatku, sungguh aku sangat malu karena saat itu mereka akan melihat lekuk-lekuk tubuhku”.

Mendengar ungkapan Sayyidah Fatimah ini, Sayyidah Asma berkata

”Wahai putri Rasulullah, disaat aku ke negeri Habasyah aku melihat jenazah yang dibawa ke kubur, jenazah diletakkan di sebuah tempat yang di sebut keranda, aku pikir itu bisa menutupi pandangan orang dari melihat lekuk tubuh jenazah yang dibawa”.

Mendengar cerita Sayyidah Asma ini tiba-tiba tangis Sayyidah Fatimah terhenti, dan wajah beliau berubah berseri-seri sambil berkata,

”Wahai Asma, sungguh aku berwasiat, jika aku mati nanti tolong buatkan aku keranda mayat seperti yang engkau ceritakan agar lekuk tubuhku tidak terlihat saat dibawa ke kuburan”.

Dan benar setelah Sayyidah Fatimah meninggal, maka dibuatlah keranda mayat untuknya.

Yang perlu di cermati dari kisah ini adalah sifat mulia Sayyidah Fatimah yang senantiasa merasa malu jika ada yang melihat lekuk tubuhnya, meskipun disaat beliau sudah meninggal. Dan karena rasa malu yang dimiliki oleh Fatimah inilah menjadi rahasia, kenapa Sayyidah Fatimah menjadi wanita yang paling mullia dan dicintai Rasulullah SAW.

Dan Saat ini, di hari ini! Adakah sifat mulia sayyidah Fatimah menempel pada wanita yang berada di rumah kita?

Atau di rumah kita ada orang yang mengaku mencintai Rasulullah akan tetapi di saat masih hidup pun tidak merasa malu jika lekuk-lekuk tubuhnya di saksikan orang di sana-sini. Atau justru pamer lekuk tubuh telah menjadi kebanggan para wanita yang mengaku kenal Sayyidah Fatimah dan kenal Rasulullah?

Jangan sampai ada yang berkata “Yang penting hati bersih masalah dandanan tidak penting”.

Hati Sayyidah Fatimah sungguh jauh dan jauh lebih bersih dari hati wanita-wanita yang kita saksikan saat ini. Justru karena kebersihan hati beliaulah maka Sayyidah Fatimah sangat pemalu dan senatiasa menjaga aurat beliau.

Ya Allah Yang Maha Pengasih, berikan kasih sayangmu kepada kami dan kepada para wanita-wanita kami ! Tutuplah aurat mereka ! Berikan kepada mereka rasa malu yang menjadikan mereka senantiasa menjaga aurot dan kehormatan mereka !

Wallahu a’lam bissawab...


Sabtu, 18 Januari 2014

Mengenang Kelahiran Nabi Muhammad SAW

http://annangws.blogspot.com/2014/01/mengenang-kelahiran-nabi-muhammad-saw.html

Setiap bulan Rabiul Awal, umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw, atau yang lebih populer dengan peringatan Maulid Nabi. Pada bulan ini tepatnya pada hari Senin menjelang terbit fajar 12 Rabiul Awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M, beliau dilahirkan di Makkah, kira-kira 200 meter dari Masjidil Haram. Kini, tempat kelahiran Nabi ini dijadikan perpustakaan “Maktabah Makkah al-Mukarranah”.

Tahun kelahiran Nabi dinamakan Tahun Gajah, karena tentara Abrahah dari Yaman menyerang Ka’bah dengan maksud akan meruntuhkannya. Mereka datang dengan mengendarai gajah. Penyerangan itu gagal karena Allah SWT mengirimkan pasukan burung ababil dari angkasa yang mencengkeram batu yang berasal dari neraka. Batu itu dijatuhkan kepada pasukan Gajah sehingga mereka hancur lumat seperti daun kayu yang dimakan ulat, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Fiel ayat 1-4.

Maulid Nabi ini merupakan momen spiritual untuk mentahbiskan beliau sebagai figur teladan yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup kita. Dalam maulid kita tidak sedang membikin sebuah upacara, tapi perenungan dan pengisian batin agar tokoh sejarah tidak menjadi fiktif dalam diri kita, tapi betul-betul secara kongkrit tertanam, mengakar, menggerakkan detak-detak jantung dan aliran darah ini.

Selain sebagai ekspresi rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW., substansi dari peringatan Maulid Nabi adalah mengukuhkan komitmen loyalistas pada beliau. Setidaknya, ini terwujud dengan beberapa hikmah,

Hikmah Peringatan Maulid Nabi

1. Peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.”
(QS Al-Ahzab: 56).

2. Peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu.Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba.

Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, apalagi anugerah Allah bagi umatnya yang beriman dan bertakwa.

3. Meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah saw. Bagi seorang mukmin, kecintaan terhadap Rasulullah saw. adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan. Kecintaan pada utusan Allah ini harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan pada anak dan isteri, kecintaan terhadap harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah bersabda : "Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya." (HR. Bukhari).

4. Meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah saw dalam setiap gerak kehidupan kita.

Allah SWT. berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)

Kita tanamkan keteladanan Rasul ini dalam keseharian kita, mulai hal terkecil, hingga paling besar, mulai kehidupan duniawi, hingga urusan akhirat. Tanamkan pula keteladanan terhadap Rasul ini pada putra-putri kita, melalui kisah-kisah sebelum tidur misalnya. Sehingga mereka tidak menjadi pemuja dan pengidola figur publik berakhlak rusak yang mereka tonton melalui acara televisi.

5. Melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah, dan juga para Nabi. Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rasul meninggalkan pesan pada umat yang amat dicintainya ini.

Beliau bersabda : ”Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam.” (HR. Malik)