Kamis, 17 Januari 2013

Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali

Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali
Imam Abu Hamid Muhammad bin Ahmad al-Ghazali adalah nama lengkap Imam Al-Ghazali dan berjuluk Hujjatul Islam. Beliau ulama terkenal dari Thus yang bermazhab Syafi’i (Imam Syafi'i Sang Ulama Fiqih). Imam Al-Ghazali memiliki peran yang sangat besar dalam memajukan peradaban Islam. Keharuman namanya mampu mencerahkan hati dan menghidupkan jiwa manusia. Kebesarannya menjadi kebanggaan intelektual Islam dan mampu menggetarkan dunia penulisan. Mendengar kehebatannya dapat menundukkan suara-suara dan kepala. Imam Al-Ghazali adalah anak seorang pemintal wol. Beliau lahir tahun 450 H di Thus.

Dasar-dasar ilmunya pertama kali diperoleh di Thus, kemudian ia mengembara ke Naisabur dan belajar berbagai macam ilmu kepada Imam Haraiman, Abu al-Ma’ali al-Juwaini. Imam Al-Ghazali dikenal sebagai pencari ilmu yang sangat tekun dan ulet sehingga dalam waktu yang singkat sudah menguasai banyak ilmu. Bahkan, di zaman gurunya masih hidup, beliau sudah menjadi perhatian dan rujukan para ulama, disamping itu beliau juga telah menyusun berbagai karangan.

Dalam perkembangan berikutnya, Ghazali ra. sempat bertemu Perdana Menteri Nizamul Muluk dann mendapatkan penghormatan yang luar biasa darinya. Pertemuan yang mengesankan itu mendorong Perdana Menteri untuk lebih aktif menghadiri pengajian-pengajian Ghazali, baik dalam majelis pribadinya maupun di majelis umum. Dalam berbagai kesempatan tersebut, Perdana Menteri menyaksikan kehebatan Ghazali dalam mengajarkan ilmunya, argumen-argumennya yang rasional, ketangkasannya yang melipat para penyanggahnya, dan keunggulan-keunggulan yang lain. Kenyataan itu lambat laun memashurkan nama Ghazali. Namanya sering disebut-sebut para pengelana, dan bahkan menjadi idola masyarakat. Fakta-fakta inilah yang mendorong Perdana Menteri untuk menyerahkan pengelolaan Perguruan Tinggi Nizamiyah, Iraq, kepada Ghazali ra. Peristiwa bersejarah yang tejadi pada tahun 480 H ini otomatis semakin mengundang simpati dan rasa kagum penduduk Iraq, sehingga kedudukan Ghazali di mata mereka semakin tinggi.

Pada tahun 488 H Ghazali meninggalkan semua kedudukan dan apa yang di perolehnya selama menjadi kiblat para ulama. Beliau pergi meninggalkan tempat keramaian dan menjalani cara hidup Zuhud. Pertama, beliau berangkat haji, kemudian menuju Syam dan menetap beberapa tahun di kota Damaskus. Di kota ini, beliau menginap di salah satu sudut kamar di Masjid Jami’ untuk melakukan kontemplasi dan merenungkan kembali berbagai macam ilmu yang selama ini dipelajarinya. Setelah berlangsung cukup lama tinggal di Masjid Jami’, beliau pindah ke Baitul Maqdis dan di tempat baru ini waktunya lebih banyak dihabiskan untuk beribadah dan menziarahi majelis-majelis ilmu, kemudian pergi ke Mesir dan menetap di Iskandariyah dalam waktu yang cukup lama. Sehabis di Mesir, beliau kembali ke kampung halamannya Thus, menyendiri di kamar pribadinya dan banyak menyusun kitab-kitab yang sangat bermanfaat dalam berbagai bidang.

Diantara kitab-kitab beliau adalah al-Wasith, al-Basith, al-Wajiz dan al-Khulashah dalam ilmu fiqih. Sementara Ihya’ ‘Ulumuddin adalah kitab utamanya yang sangat berharga. Al-Mustashfa adalah kitab ushul fiqihnya. Kitab-kitab ini disusun pada tahun 503 H. Selain itu, masih banyak kitab-kitab karangannya, diantaranya Tahafut al-Falasifah, Mahakku al-Nazar, Mi’yar al-‘Ilmi, al-Maqshad al-Asna fi Sharh Asma’Allah al-Husna, Mishkat al Anwar, al-Munqidz Minal Dhalal, al-Iqtishad fi al-I’tiqad ,’Ulum al-Nazar, Ma’arij al-Qudus fi Ahwal al-Nafs, Maqashid al-Falasifah, Tanzih al-Qur’an ‘An al-Bathiniyah, al-Tibar al-Masbuk fi Nashihah al Muluk, Minhaj al-‘Abidin, dan Yaqut al-Ta’wil fi Tafsir al-Tanzil. Yang terakhir ini adalah kitab tafsir dalam 40 jilid.

Setelah itu,  beliau kembali lagi ke Naisabur dan mengajar di Perguruan Nizamiyah. Namun tidak berapa lama, beliau kembali pulang ke rumahnya di Thus dan membuat satu titik kecil untuk menjalani hidup sufi. Di samping kesibukkan utama ini, beliau juga masih sempat menyisakan waktunya untuk mengajar. Sementara sebagian besar waktunya dibagi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mulia, seperti mengkhatamkan Al-Qur’an, menghadiri majelis sufi, dan mengajar. Aktivitas-aktivitas ini dilakukan terus hingga beliau kembali ke pangkuan Allah SWT pada hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir, tahun 505 H di Thus.

Semoga Allah selalu merahmatinya... aamiin

Demikian ringkasan Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali sebagai pendahuluan dari postingan postingan berikutnya nanti tentang beliau, Insya Allah...
Sebelumnya saya juga telah posting tentang Surat Imam Al-Ghazali Kepada Muridnya. Yang pasti sarat akan nasehat nasehat hakikat hidup... silahkan dibaca.

Semoga Bermanfaat - Salam Ukhuwah Fillah

 
Judul: Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali
Rating: 100% based on 99998 ratings. 4.5 user reviews.
By Annang ASWAJA
Terimakasih Atas Kunjungan Sahabat... Silahkan tulis kritik dan saran di kotak komentar
Barakallahu Fiikum